Kebijakan Trump Hingga Inflasi Jadi Tantangan Ekonomi RI di 2017

G+


Jakarta - Pemerintah harus lebih giat lagi menjaga beberapa indikator perekonomian nasional disepanjang 2017 yang masih dibayang-bayangi ketidakpasitan ekonomi global. Hal tersebut diungkapkan Ekonom BCA, David Samual saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Sabtu (4/2/2017).

David menyebutkan, tantangan perekonomian dari global salah satunya masih belum pastinya kebijakan yang akan diterapkan oleh Donald Trump pasca terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat.

Tantangan bagi perekonomian Indonesia juga datang dari perlambatan perekonomian di China. Sedangkan dari internal, pemerintah harus menjaga inflasi hingga defisit transaksi berjalan, hingga kondisi perpolitikan dalam negeri.

"Pada 2017 pemerintah harus menjaga indikator-indikator perekonomian, seperti inflasi, juga defisit transaksi berjalan," kata dia.

David menjelaskan, pada 2015 angka inflasi Indonesia sangat tinggi, dan transaksi berjalan defisitnya lebih dari 4%, serta adanya devaluasi mata uang China, yuan yang menjadikan nilai tukar Rupiah melemah hingga Rp 14.000 per US$.

Pada 2016, pemerintah berhasil menjaga angka inflasi sebesar 3%, dengan defisit transaksi berjalan sebesar 2%.

"Kalau transaksi berjalan lebih dari 4% bagaimana investor mau mendanai, terutama investor portofolio," tambahnya.

Oleh karena itu, kata David, pemerintah harus menjaga lebih giat lagi indikator-indikator seperti inflasi, defisit transaksi berjalan hingga kebijakan-kebijakan lainnya, seperti rencana penyesuaian tarif listrik yang akan diberlakukan setiap tiga bulan sekali.

"Stabilitas politik terutama pilkada harus berjalan aman, karena ada rencana kenaikan tarif listrik setiap 3 bulan, ini dampaknya akan cukup besar terhadap inflasi 2017," ungkapnya.

Meski demikian, sambung David, pada 2017 setidaknya perekonomian Indonesia akan terbantu oleh tren positif ekspor komoditi yang saat ini harganya sudah mengalami kenaikan, seperti karet, batu bara, dan CPO.

"Kan selama ini termasuk tahun lalu pertumbuhannya negatif ekspor, harapannya 2017 akan rebound karena kalau kita perhatikan secara keseluruhan keyakinan pebisnis salah satunya di topang dari bagaimana kinerja ekspor, mungkin kalau ingin menaikkan harga listrik secara gradual maksudnya dipilih bulan-bulan yang tekanan inflasinya tidak besar," tegasnya.



Sumber : detik
Loading...
Follow Us :

About Dunia News

Media Online Indonesia
    Blogger Comment
    Facebook Comment
Loading...