Empat Pos Lantas dan Satu Traffic Light Dirusak

G+

Medan (DuniaNews) - Sedikitnya empat Pos Lantas yang ada di sejumlah lokasi di Medan dirusak pengunjuk rasa yang menolak kenaikan BBM, Jumat (30/3). Keempat pos lantas yang dirusak terdiri dari dua di Polsekta Medan Timur yakni persimpangan Jalan Perintis Kemerdekaan-Jalan Gaharu Medan dan Jalan Perintis-Jalan Sutomo Medan, satu Pos Lantas Polsekta Medan Baru Jalan S Parman dan Pos Lantas di simpang Glugur Kota Jalan KL Yos Sudarso dirusak massa pengunjukrasa penolakan kenaikan harga BBM, Jumat (30/3) sore.
Ratusan mahasiswa Universitas Dharma Agung (UDA) melampiaskan kemarahan mereka dengan merusak dan membakar Pos Polisi Polsekta Medan Baru di persimpangan Jalan Kapten Pattimura-Jalan Sudirman dan Jalan S. Parman, Jumat (30/3) siang menggunakan ban bekas.

Selain itu, massa mahasiswa juga terlibat bentrok dengan polisi saat berkonvoi ke beberapa titik lokasi unjuk rasa. Perlawanan mereka dapat dipatahkan setelah dikerahkannya dua mobil Water Cannon dan dilepaskannya tembakan-tembakan gas air mata ke arah demonstran saat mereka berteduh dari guyuran hujan deras di Jalan S. Parman Medan usai membakar pos polisi.

Untuk menghindari tangkapan polisi, mereka berpencar ke beberapa lokasi, ada juga yang mengarah ke kampus di Jalan TD Pardede. Dari dalam kampus, anak-anak bangsa ini, demi membela kepentingan rakyat, kembali merangsek keluar untuk memberikan perlawanan dengan melempari polisi berjaga di persimpangan Jalan TD Pardede-Jalan S. Parman.

Dengan menggunakan tameng, tongkat pemukul, serta didukung kendaran Water Cannon, polisi sekali lagi berhasil memukul mundur mereka hingga berlarian ke dalam kampus. Tiga mahasiswa diamankan dan dibawa ke Polresta Medan. Kapolresta Medan Kombes Pol Monang Situmorang mengatakan, ketiga mahasiswa dibawa ke Mapolresta Medan untuk diperiksa.

Selain keributan di atas, massa mahasiswa Unika dalam aksi mereka juga merusak satu mobil tanki, membakar plang polisi, dan memecahkan lampu-lampu lalulintas di persimpangan Jalan Setia Budi-Jalan Ringroad-Jalan Ngumban Surbakti. Dalam orasinya mereka tetap meminta pemerintah untuk membatalkan rencana kenaikan harga BBM.

Diamankan

Sehubungan aksi tersebut, seorang pengunjuk rasa diamankan pihak kepolisian karena diduga turut melakukan aksi perusakan sekaligus pembakaran pos Lalulintas (Lantas) di simpang Jalan S. Parman-Pattimura, Medan, Jumat (30/3) siang.

"Pelaku berinisial KT penduduk Jalan Binjai Km 7,5 Medan yang juga mahasiswa Universitas Darma Agung (UDA) dan hingga pukul 21.00 WIB yang bersangkutan masih diminta keterangannya oleh pihak kepolisian," ujar Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Heru Prakoso, beberapa saat setelah kejadian.

Heru menjabarkan, secara keseluruhan empat Pos Lantas mengalami kerusakan karena massa melempari kacanya hingga pecah yakni di Jalan Perintis Kemerdekaan dua bangunan, Gelugur satu pos dan S.Parman simpang Pattimura satu pos. Tak hanya dirusak, Pos Lantas di Jalan S.Parman juga dibakar massa.

Di saat bersamaan, Heru juga sangat menyayangkan aksi pengunjuk rasa yang mulai mengarah anarki seperti melakukan perusakan. Apalagi, yang dirusak merupakan fasilitas umum. "Padahal dalam penanganan aksi massa, polisi telah diberikan garis tegas tidak membawa senjata api (senpi) berpeluru tajam kecuali senjata pelicin yang digunakan untuk melontar gas airmata," terangnya.

Polisi, sebutnya, hanya melengkapi diri dengan peralatan Pengendalian Massa (Dalmas) seperti helm, pentungan dari rotan, pelindung badan dan gas airmata. Bahkan selama ini tidak pernah melakukan pengejaran kepada pengunjuk rasa.

"Kalaupun ada, itu dilakukan saat di Bandara Polonia karena mengejar seseorang diduga sebagai provokator," kata Heru.

Selain menghancurkan pos polisi para pengunjuk rasa juga menghacurkan traffic light yang berdekatan dengan pos tersebut.

Polisi juga dikabarkan sempat menahan tiga pengunjuk rasa yang beraksi di Jalan S Parman Medan.

Berdasarkan pantauan Analisa, Jumat sore di lapangan, selain menghancurkan kedua pos polisi dan membakar barang-barang di dalamnya, pengunjuk rasa juga melakukan pembelokiran di tiga persimpangan yakni Jalan Perintis Kemerdekaan-Jalan Sutomo, persimpangan Jalan Sutomo-Jalan Prof HM Yamin dan persimpangan Jalan Perintis Kemerdekaan-Jalan Gaharu Medan.

Akibat aksi para mahasiwa yang mengaku berasal dari Keluarga Besar Mahasiwa (KBM) Univesitas HKBP Nommensen tersebut sejumlah ruas jalan di Medan mengalami kemacatan lalulintas luar biasa, di samping akibat luapan arus lalulintas.

Hal ini diperparah lagi dengan ketiadaan petugas kepolisian yang mengatur arus lalulintas di kawasan tersebut.

Nommensen

Sementara seratusan massa dari Keluarga Besar Mahasiswa Universitas HKBP Nommensen melakukan aksi blokir jalan Perintis Kemerdekaan, Jumat (30/3) sebagai aksi penolakan rencana kenaikan harga BBM.

Massa yang berkumpul di badan Jalan dan membakar ban bekas melakukan orasi secara bergantian dan menilai, alasan pemerintah menaikkan BBM karena APBN akan mengalami defisit akibat beban subsidi.

Puluhan massa dari Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII) Sumatera Utara membakar foto SBY-Boediono, Jumat (30/3) sore sebagai protes keras mahasiswa atas rencana pemerintah menaikan BBM.

Massa yang melakukan orasi di bawah rintik hujan di Jalan Stasiun Lapangan Merdeka, Medan juga melakukan orasi mengecam keras rencana pemerintahan SBY menaikkan harga BBM tanggal 1 April mendatang.

Dalam orasinya Koordinator aksi Ahmad Riduan Hasibuan dan Koordinator lapangan Darwin Sipahutar menilai, rencana pemerintah mengurangi beban subsidi sebagai alasan kelasik menyelamatkan APBN. "Subsidi adalah penyakit kanker yang menggrogoti APBN," kata massa.

Disampaikan massa, kepentingan asing telah menguasai seluruh sumber daya alam Indonesia. Hal ini membuktikan negara kehilangan kedaulatan terhadap sumber daya alam.

Oleh karena itu, PKC PMII Sumut menolak kenaikan harga BBM dan mewujudkan kemandirian energi. Kemudian menolak liberalisasi ekonomi dan nasionalisasikan aset negara yang dikuasai asing.

Merasa Prihatin

Anggota DPRD Sumut Brilian Moktar ketika ditemui Analisa, Jumat malam mengutarakan keprihatinannya dengan aksi pengrusakan yang dilakukan massa pada sejumlah pos polisi.

Dikatakan Brilian yang juga alumni Fakultas Ekonomi UHN, tindakan anarki para pengunjuk rasa yang merusak fasilitas umum termasuk pos polisi menjadi menambah biaya pengeluaran pemerintah.

"Sah-sah saja para mahasiswa melakukan unjuk rasa menyampaikan aspirasi penolakan BBM, tetapi jangan bertindak anarki apalagi sampai melakukan pengrusakan fasilitas umum," tukas anggota Fraksi PDIP Sumut sembari menyatakan partainya juga menolak kenaikan BBM.

Lebih lanjut, Brilian Moktar juga mengimbau agar Walikota Medan membantu membangun kembali seluruh pos polisi yang telah dirusak massa.

Sementara itu, berdasarkan pemantauan wartawan di sejumlah lokasi akibat maraknya aksi unjuk rasa di beberapa kawasan di Medan, sempat berhembus isu penjarahan yang terjadi di beberapa tempat.

Salah satunya di Pasar Ramai, tetapi setelah dilakukan pengecekan, aparat Polsekta Medan Area tidak menemukan adanya aksi penjarahan massa di daerahnya. Hal itu dibenarkan Kanit Reskrim Polsekta Medan Area AKP Banjarnaor.

Sedangkan di ruko-ruko Pasar Glugur Kota saat berlangsungnya aksi unjuk rasa mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sumut (UMSU) jumat sore langsung tutup akibat adanya pelemparan batu. Pelemparan batu tersebut terjadi saat massa merusak Pos Lalulintas di Simpang Glugur Kota.

Hingga Jumat malam, aksi unjuk rasa penolakan kenaikan BBM masih berlangsung di UHN.

Terobos DPRD Sumut

Sementara ratusan demonstran yang memprotes kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) akhirnya berhasil melenggang memasuki gedung DPRD Sumut, dengan menjebol pagar seng pembatas bagian samping gedung wakil rakyat tersebut, Jumat (30/03).

Massa dari Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GAMKI), menerobos gedung DPRD Sumut dengan memaksa para buruh yang sedang bekerja di PT Jaya Kontruksi (Jakon), untuk membukakan pintu bagi pendemo.

Massa memilih jalan dari lokasi tersebut, karena pintu utama gedung DPRD Sumut dikawal ketat dan dipagari kawat berduri.

Para demonstran datang, tepat pukul, 13.00 WIB, saat sebagian besar petugas sedang menunaikan sholat Jumat, di Musholla yang berada di belakang gedung DPRD Sumut. Akibatnya penjagaan gedung DPRD Sumut sedikit longgar.

Melihat situasi yang dianggap kurang kondusip, petugas kepolisian, segera bergegas untuk menghadang pendemo. Apalagi beberapa menit kemudian, kelompok demonstran lainnya juga datang, yakni dari Gema Hanura, dan LSM Generasi Muda Peduli Tanah Air (Gempita Sumut)

Namun massa berorasi dengan tertib, setelah wakil Ketua DPRD Sumut, Kamaluddin Harahap dan anggota DPRD Sumut Guntur Manurung menerima aspirasi mereka. Kemudian massa meninggalkan gedung dewan dengan tertib.

Sementara puluhan pengunjuk rasa dari Himpunan Mahasiswa Al-Washliyah (Himmah) Medan menentang kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sambil membakar ban bekas serta memblokir Jalan Sisingamangaraja simpang HM Jhoni, Medan, Jumat (30/3). Saat itu, massa menuding polisi sebagai badut dan boneka pemerintah. Mereka juga meminta polisi tidak berlaku semena-mena memukuli mahasiswa. Massa terus berorasi sambil menyanyikan lagu-lagu perjuangan dan tak berselang lama puluhan Brimob bersenjata lengkap mengendarai kendaraan trail datang ke lokasi dan hanya berjarak sekira lima meter dengan massa yang berkumpul.

Kedatangan ini sempat membuat situasi mulai mencekam. Namun Brimob hanya menyaksikan dari atas sepeda motor. Beberapa menit kemudian, mereka mulai meninggalkan lokasi diiringi teriakan bernada hujatan oleh massa.

Namun banyak juga personil yang sempat merapatkan sepeda motornya ke massa dan saling berjabat tangan serta mengacungkan tanda jempol. Salahseorang personil menyatakan, mereka memang sedang menjalankan patroli simpatik. "Kita memang patroli simpatik," tegasnya sambil memacu sepeda motor.

Selain menghujat membakar ban dan memblokir jalan, beberapa pengunjuk rasa juga melempari baliho besar salahsatu partai yang kebetulan terpajang tak jauh dari lokasi aksi. Tapi upaya itu dicegah rekan-rekan lainnya.

Sementara, Anwar Sipahutar, Presiden Mahasiswa BEM Universitas Muslim Nusantara (UMN) menegaskan mereka akan terus berunjuk rasa untuk menggagalkan rencana pemerintah menaikkan harga BBM.

Sebelumnya, aksi yang sama juga dilakukan Komite Aksi pekerja-buruh (KAP-B) Sumut, persis di depan Taman Makam Pahlawan (TMP) Jalan Sisingamangaraja, Medan.(aru/wan/rmd/di/hen)

Sumber : Analisadaily
Loading...
Follow Us :

About Dunia News

Media Online Indonesia
    Blogger Comment
    Facebook Comment
Loading...